• Manager Investasi

  • Bursa Efek Jakarta

  • Bursa Efek Hongkong

  • Bursa Efek Japan

  • Paranormal Pasar Modal

Sang Pialang - Setiap partisipan di pasar finansial global kini tentunya merasakan keresahan yang melanda. Tidak ada bearish yang benar-benar bearish, dan tak ada bullish yang benar-benar bullish; tren seakan membentur tembok elusif dimana baik para seller maupun buyer enggan melangkah. Namun demikian, cepat atau lambat, kondisi ini akan mencapai titik kulminasi-nya, dimana akan terlihat, siapa-siapa yang terjun bebas dan siapa-siapa yang bisa bertahan.

Masalahnya disini, ada banyak faktor tak menentu di pasar saat ini yang cepat atau lambat bisa menghantarkan situasi untuk mencapai titik kulminasi tersebut, dan di ujung depan bisa jadi adalah perkara harga minyak dunia.

ilustrasi

 

Harga Komoditas Murah = Resesi?

 

Catatan dalam newsletter pekanan OilPrice  awal minggu Kemarin mencatat, kecemasan yang kuat di pasar akan harga minyak Dunia memiliki alasan historis yang cukup solid.

Menurut biro berita seputar sektor energi tersebut, "Perlambatan ekonomi kini melanda sebagian besar wilayah di Dunia. Eropa stagnan, sebagian Amerika Latin resesi, dan China pun sudah bukan lagi mesin pertumbuhan yang diandalkan Dunia pada satu dekade terakhir. Faktanya, pasar kian menerjemahkan kolaps-nya pasar komoditas sebagai penyebab potensial (dibalik) makin muramnya perekonomian. Di masa lalu, anjloknya harga-harga komoditas telah diasosiasikan dengan resesi berat (lihat: Krisis Finansial Global 2008-2009)."

 Harga Spot Brent

Rekaman Historis Harga Spot Minyak Brent Tahun 1987-sekarang

 

Dilema harga minyak pun belum menunjukkan titik terang hingga editorial ini diangkat. Pada hari Senin, China mengungkapkan bahwa konsumsi diesel-nya tahun 2015 menurun dibanding 2014, meningkatkan lagi kekhawatiran akan turunnya permintaan. Di sisi lain, pimpinan Saudi Aramco, BUMN Perminyakan Arab Saudi yang juga salah satu perusahaan minyak terbesar dunia, kembali menegaskan akan terus berinvestasi ke sumber-sumber baru produksi minyak.

Bagi pasar forex, secara langsung maupun tidak, deadlock tersebut bermakna besar, khususnya bagi Dolar Kanada yang telah tenggelam makin dalam akibat tingginya ketergantungan sektor ekspor negeri tersebut pada komoditas minyak. Dolar komoditas lain, Aussie dan Kiwi, juga berpotensi terimbas. Sementara itu, bila kepanikan di pasar modal global berlanjut, maka Yen Jepang dan Euro yang dianggap beberapa kalangan sebagai safe haven, ada kemungkinan menguat.

Namun, kini nampak adanya keresahan level tinggi, bukan hanya di kalangan negara-negara minor OPEC dan Rusia, melainkan juga di kalangan investor yang menilai minyak sudah kelewat oversold. Perusahaan-perusahaan minyak multinasional pun terancam penurunan rating kredit jika kondisi dimana harga minyak murah terus berlanjut. Dengan kata lain, ada harapan kuat di pasar agar rebound minyak kali ini sukses. Akan tetapi,hingga detik ini konsensus belum tercapai.

 

Kaitan Minyak Dengan Pertumbuhan Ekonomi

Harga minyak sebagai salah satu sumber energi vital tidak bisa diremehkan. Banyak orang sepintas menganggap bahwa harga minyak itu makin rendah makin bagus, karena nantinya harga BBM murah, barang-barang murah, dan seterusnya. Sejatinya, ini adalah pandangan yang keliru. Sebagaimana setiap hal lain dalam ilmu ekonomi, harga minyak selayaknya berada dalam suatu tingkat keseimbangan tertentu, tidak kelewat rendah maupun kelewat tinggi. Ketika keseimbangan itu tak tercapai, maka neraca-nya akan terus bergoyang-goyang tidak stabil.

Faktanya, masalah harga minyak ini berada dibalik dovish-nya pernyataan FOMC pasca rapat terakhirnya kemarin. FOMC menulis masih mengharapkan inflasi mencapai target 2 persen dalam jangka menengah, tetapi tidak lagi menggunakan kata "confident". Dalam jangka pendek, mereka bahkan dengan jelas menorehkan, "(inflasi) tetap rendah dalam jangka pendek, sebagian karena penurunan lebih lanjut harga-harga energi". Dalam kerangka makro, FOMC pun tak lagi pede akan prospek pertumbuhan ekonomi Amerika, karena dengan inflasi rendah dan luar negeri bergejolak maka dalam negeri mereka pun bakal terdampak. Faktanya, GDP AS kuartal 4/2015 diprediksi melambat karena alasan tersebut juga.

Di samping itu, apabila inflasi tetap rendah dan laju pertumbuhan lesu, maka FOMC takkan memiliki alasan untuk menaikkan suku bunga lagi di bulan Maret mendatang. Jika demikian, hilanglah mesin pendorong reli Dolar. Tak heran, indeks Dolar di Bloomberg nampak wara-wiri diantara 98.0 dan 99.6 saja sepanjang Januari ini, sejalan dengan jungkat-jungkit tak jelas harga minyak.

Dalam lingkup waktu sempit, ini berarti ada dasar tambahan yang melandasi prediksi Euro dan Yen akan menjulang. Tetapi bagi pasar secara umum, itu alamat buruk, karena artinya tahun 2016 lagi-lagi dihantui pertanyaan dan ketidakpastian terkait Fed rate. Reli Dolar AS dalam tahun 2016 yang banyak diramalkan sebelum pergantian tahun pun entah akan terwujud atau tidak.

 

Baca Juga : 

Get Adobe Flash player

Mitra Broker Sang Pialang

 

 

 

Forexmart

 

 

 

Live Currency


The Forex Quotes are powered by Investing.com.

Sosial Media

 

 

Pengunjung

Flag Counter
DMCA.com Protection Status ||

f t g