SANG PIALANG - Harga minyak mentah ambruk ke level terendah dalam sebulan pada hari Jumat (1/4), mengakhiri relinya selama enam pekan terakhir. Pasalnya, sebuah pernyataan dari anggota kerajaan Arab Saudi memupuskan harapan akan tercapainya kesepakatan pembatasan produksi pada rapat antara produsen minyak terkemuka Dunia tanggal 17 April mendatang.

ilustrasi

Minyak mentah AS untuk pengiriman Mei anjlok nyaris dua dolar ke $36.79 per barel di New York Mercantile Exchange (NYMEX). Sementara harga acuan global Brent ambrol sekitar 4 persen ke $38.67 per barel di Intercontinental Exchange (ICE). Keduanya merosot sekitar 6 persen dalam sepekan, mencatat performa pekanan terburuk dalam masa lebih dari satu bulan.

 

Tolak Kesepakatan Yang Tak Mufakat

Deputi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, mengatakan pada sebuah wawancara di Bloomberg bahwa negerinya hanya akan membekukan level output minyak apabila Iran dan produsen-produsen minyak mayor lainnya setuju untuk membatasi output mereka juga. Padahal, Iran dan Libya telah tegas menolak rekomendasi yang tercipta dari kesepakatan sementara antara Saudi, Rusia, Qatar, dan Venezuela Februari lalu untukmembatasi tingkat output pada level produksi Januari.

Pernyataan Mohammed bin Salman tersebut menyiram air dingin di atas gelora ekspektasi yang telah mendorong harga minyak naik 50 persen dalam sekitar sebulan terakhir. Apalagi, laporan persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) terakhir pekan lalu menunjukkan bahwa oversupply masih membebani pasar minyak dunia.

 

Abaikan Semua Kecuali Oversupply

Sementara persediaan minyak di seluruh dunia terus memuncak dekat level tertinggi sepanjang masa, produsen-produsen terbesar seperti Saudi, Rusia, dan Iran, masih terus berlomba menggenjot produksi mereka. Iran secara khusus masih konsisten dengan rencananya untuk memompa produksi hingga mencapai 1 juta bph per akhir tahun ini.

Para pelaku pasar mengabaikan data terbaru tentang ekonomi AS dan jumlah sumur pengeboran yang sebenarnya memiliki potensi untuk menopang harga. NFP AS naik lebih dari ekspektasi sebesar 215,000 pada bulan Maret, dan ini biasanya mendukung harga minyak karena lebih banyak pekerjaan berarti akan ada lebih banyak permintaan BBM. Sedangkan Baker Hughers menyebutkan jumlah sumur pengeboran berkurang 10 ke 362, mengindikasikan potensi akan produksi minyak AS yang lebih rendah di masa depan.

Menurut para pengamat yang diwawancarai Wall Street Journal, laju produksi di negara-negara OPEC akan mengimbangi seberapapun penurunan produksi yang mungkin terjadi. Oleh karenanya, selama tidak ada kesepakatan diantara semua produsen terkemuka untuk membatasi output, maka harapan akan pemulihan harga minyak tahun ini bisa dianggap tamat.

Get Adobe Flash player

Mitra Broker Sang Pialang

 

 

 

Forexmart

 

 

 

Live Currency


The Forex Quotes are powered by Investing.com.

Sosial Media

 

 

Pengunjung

Flag Counter
DMCA.com Protection Status ||

f t g