Sang Pialang - Selama beberapa waktu sejak PM Cameron mengumumkan tanggal penyelenggaraan referendum Brexit, spekulasi pasar baru memperhitungkan dampak-dampak yang akan menimpa Pounds saja. Tak diragukan kalau Inggris merupakan pihak yang harus menanggung paling banyak efek negatif jika negeri itu keluar dari kesatuan ekonomi-politik Benua Biru. Namun, seiring dengan mendekatnya hari-H, nampak bahwa hasil referendum ini bukan hanya berpotensi menimbulkan goncangan besar bagi Inggris, melainkan juga untuk Euro dan bahkan seluruh dunia. Bagaimana dampak ketidakpastian terkait referendum Brexit terhadap Euro? Berikut uraiannya.

ilustrasi

 

Saham Bakal Paling Terhantam

Dampak Brexit terhadap Euro tak bisa dipisahkan dari potensi imbas keluarnya Inggris bagi Uni Eropa (UE), jika itu benar-benar terjadi. Dalam hal ini, dapat ditinjau dari beberapa sisi.

1. Pasar Finansial
Tadi malam (12/6), otoritas jasa keuangan Jerman Bafin menyebutkan bahwa jika Inggris memilih keluar dari Uni Eropa, maka itu akan memukul bank-bank besar Jerman karena tingginya eksposur mereka disana. Sementara test-stress yang dilakukan oleh Axioma Inc baru-baru ini menemukan bahwa pasar saham Eropa bisa anjlok 24 persen jika kubu pendukung Brexit memenangi referendum.

Untuk saat ini pasar saham Eropa masih cenderung kalem, tetapi Axioma mengklaim, jika Inggris sungguh keluar dari Uni Eropa maka saham-lah aset finansial yang bakal terpukul paling parah. Menurut Bloomberg, FTSE All-Share Index telah turun 1.2 persen tahun ini, dan Stoxx Europe 600 Index mundur 7.6 persen. Namun, jika kubu pendukung "Pergi dari UE" menang, maka selain saham-saham Inggris tentu akan terpukul paling besar, saham Eropa daratan pun takkan luput dari goncangan.

Ing, jaringan bank multinasional asal Belanda, memproyeksikan hal serupa. Dalam catatan analisanya, Ing menunjuk Irlandia dan Belanda akan paling terdampak dibanding negara-negara UE lainnya. Perusahaan-perusahaan Eropa harus mengalami kerugian akibat revaluasi investasi mereka di Inggris, apalagi dengan Pounds diprediksi bakal terdepresiasi maka profit yang didapat jika ditukar dengan Euro pun akan lebih sedikit. Brexit juga akan memicu repatriasi investasi balik ke Eropa daratan dari Inggris. Sejumlah bank-bank besar telah mengancam akan hengkang dari sana kalau Brexit terwujud dan itu takkan hanya terjadi di sektor perbankan saja, terutama bila negosiasi perjanjian dagang setelahnya tersendat-sendat.

 

2. Efek Domino
Menurut Jane Foley, ahli strategi forex dari Rabobank, sebagaimana disampaikannya pada media Financial Times, "Terlepas dari dampak Brexit bagi perekonomian Inggris, warisannya yang terbesar bisa jadi (adalah)menggarisbawahi keretakan di UE yang telah ada di bagian-bagian lain Eropa."

Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble pun mengakui pada media Der Spiegel pekan lalu bahwakeluarnya Inggris dari UE akan menimbulkan efek domino dan bisa memicu negara-negara Eurosceptic lainnya untuk turut angkat kaki. Perlu diketahui bahwa sentimen anti Uni Eropa tidak hanya berkembang di Inggris, melainkan juga di Belanda, Swedia, Perancis, dan Spanyol.

Dukungan publik bagi UE telah melorot jauh dalam beberapa waktu terakhir. Sebuah studi oleh Pew Research Center menunjukkan hanya 38% responden di Perancis yang puas dengan UE, turun 17 poin dibanding tahun lalu. Demikian pula di Spanyol jatuh 16 poin ke 47%, dan bahkan di Jerman turun 8 poin ke 50%. UE disambut lebih hangat justru di negara-negara periferi seperti Polandia dan Hungaria. Dengan kata lain, apabila referendum Brexit kali ini berakhir dengan "out", maka akan makin kuatlah desakan bagi pemerintah negara-negara utama lainnya untuk turut menggelar referendum serupa, sekaligus membuka pintu bagi bubarnya Uni Eropa.

 

Euro Menjelang Brexit

Di era dunia yang terotomasi dan terglobalisasi, potensi ketidakstabilan di pasar finansial dan efek domino tersebut tentu berdampak pada Euro, meski sementara ini diperkirakan hanya dalam durasi terbatas.

Christopher Vecchio dari DailyFX menorehkan dalam catatannya awal pekan ini, "Ada alasan bagus untuk meyakini bahwa bayangan potensi Brexit adalah penggerak utama kelemahan Euro dalam jangka pendek (disamping juga peningkatan volatilitas yang berlangsung bersamaan): data ekonomi Zona Euro tidaklah buruk".

Menurutnya, ada banyak argumen yang mendukung harapan ECB takkan melonggarkan "kantong"-nya lagi tahun ini, jika isu Brexit tak diperhitungkan. Dengan demikian, bila diasumsikan bahwa kelemahan Euro akhir-akhir ini adalah gara-gara Brexit, maka hasil referendum yang memenangkan resolusi "keluar dari EU" bisa menjaga Euro tetap rendah; sedangkan bila sebaliknya, maka partisipan pasar nampaknya tidak bersiap untuk menghadapi Euro melemah dalam jangka panjang.

Senada dengan Vecchio, Morgan Stanley dalam outlook mingguannya pun menyebutkan bahwa meski mereka mengekspektasikan EUR akan didukung oleh peningkatan yield obligasi riil, tetapi akan sulit untuk reli karena kuatnya event-event berisiko regional, termasuk referendum keanggotaan Uni Eropa tanggal 23 Juni mendatang.

 

 

Baca Juga : 

Yang Lagi Hots

Get Adobe Flash player

Mitra Broker Sang Pialang

 

 

 

Forexmart

 

 

 

Live Currency


The Forex Quotes are powered by Investing.com.

Sosial Media

 

 

Pengunjung

Flag Counter
DMCA.com Protection Status ||

f t g