Rekap Fundamental Ekonomi 21 Desember 2015 - 18 Januari 2016

Sejak update analisa rupiah ini sebulan yang lalu, sejumlah perubahan penting dialami oleh data-data ekonomi Indonesia. Diantaranya, yang terpenting adalah pemangkasan suku bunga acuan BI rate sebesar 25 basis poin pada 14 Januari lalu.

Pemangkasan suku bunga acuan biasanya berdampak negatif dengan melemahnya nilai tukar, tetapi pelemahan Rupiah belum terlihat pekan lalu, bahkan setelah terjadinya bom Sarinah. Hal ini bisa jadi berkorespondensi dengan ekspektasi bahwa suku bunga yang lebih rendah akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Juga, berkaitan dengan beberapa perubahan lain yang terjadi dalam indikator-indikator ekonomi Indonesia.

1. Indeks PMI Manufaktur Indonesia Masih Kontraksi, Tapi Membaik 
Indeks PMI Manufaktur Indonesia yang dilaporkan oleh Markit/Nikkei pada bulan Desember naik dari 46.9 menjadi 47.8. Indeks yang mengukur performa sektor manufaktur dan diperoleh dari survei atas xxx perusahaan tersebut jelas masih kontraksi karena dibawah ambang angka 50, namun peningkatan tersebut mengindikasikan adanya perbaikan.

Indeks PMI Manufaktur Indonesia

Grafik Indeks PMI Manufaktur Indonesia Januari-Desember 2015

 

Produksi, pesanan baru, dan ketenagakerjaan masih menurun, sementara harga-harga bahan baku impor masih tetap tinggi akibat lemahnya nilai tukar Rupiah. Namun demikian, ekonom dari lembaga riset Markit menyatakan bahwa beberapa paket ekonomi yang baru saja diluncurkan pemerintah diharapkan akan mendorong pertumbuhan dalam setahun mendatang.

2. BI Rate Dipangkas Jadi 7.25 Persen
Bank Indonesia pasca Rapat Dewan Gubernur tanggal 14 Januari 2016 mengumumkan pemangkasan BI Rate untuk pertama kalinya dalam setahun dari 7.50 persen menjadi 7.25 persen, sedangkan suku bunga Deposit Facility turun ke 5.25 persen dan Lending Facility pada 7.75 persen. Keputusan itu tidak jauh dari fakta bahwa inflasi tahunan pada 2015 hanya mencapai 3.5 persen, lebih rendah dari tahun 2014 dan dibawah sasaran 4±1 persen (yoy).

Dalam pernyataannya, BI mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal 4/2015 belum menunjukkan perbaikan signifikan, "meskipun telah dilakukan stimulus fiskal dan relaksasi kebijakan makroprudensial". Namun demikian, diyakini bahwa neraca pembayaran masih terus membaik dan ketidakpastian ekonomi global mereda.

3. Neraca Dagang Defisit Lagi, Tapi Ekspor-Impor Naik
Neraca dagang Indonesia defisit untuk kedua kalinya pada bulan Desember setelah mengalami hal yang sama pada November tetapi besaran defisit menyempit dari -410 juta Dolar AS menjadi -230 juta Dolar AS. Selain itu, baik ekspor maupun impor mengalami kenaikan dalam periode tersebut, sehingga data ini bisa dinilai senada dengan indeks PMI. 

Neraca Dagang Indonesia

Searah Jarum Jam: Grafik Neraca Dagang, Impor, dan Ekspor. Area yang diarsir biru pada grafik ekspor dan impor menunjukkan kisaran forecast.

 

Sebagaimana diketahui, penurunan ekspor dan impor dalam lebih dari setahun terakhir merupakan pertanda melesunya konsumsi dan produksi domestik, sehingga kenaikan tersebut memberikan sinyal adanya pemulihan. Akan tetapi, mengenai apakah pemulihan sungguh terealisasikan, kita masih harus memantau data-data ekonomi dalam beberapa bulan mendatang, terutama karena forecast masih mengindikasikan akan menurun lagi.

4. Kenaikan Utang Luar Negeri Didominasi Utang Jangka Panjang
Utang Luar Negeri Indonesia pada November 2015 tercatat naik 3.2 persen (yoy), lebih tinggi dari Oktober yang sebesar 2.5 persen (yoy). Utang luar negeri masih didominasi utang jangka panjang sebanyak 86.6 persen (USD263.9 miliar) dan sisanya utang jangka pendek USD40.7 miliar.

Yang patut dikhawatirkan disini adalah mayoritas utang jangka pendek yang dipegang sektor swasta sebesar USD37.7 miliar, khususnya apabila Rupiah jatuh lagi dan perusahaan-perusahaan belum hedging. Namun secara umum, BI menganggap utang luar negeri ini masih cukup sehat.

5. Keluarnya Dana Investasi Asing

IHSG berada dibawah tekanan sejak awal tahun ini, hingga ditutup pada 4,481.28 kemarin, khususnya dikarenakan aksi jual investor asing. Net sell investor asing sejak awal tahun 2016 telah mencapai total Rp3.08 triliun. Hal serupa dialami oleh bursa-bursa lainnya; nuansa risk-off yang mewarnai pasar saat ini membuat investor cenderung berpikir dua kali.

Lansekap ekonomi dunia sesungguhnya makin mengkhawatirkan dengan jatuhnya harga minyak tembus ke bawah 30 USD per barel dan berlanjutnya kekhawatiran terkait perlambatan ekonomi China, yang mana faktor-faktor tersebut turut menempatkan Indonesia dalam kondisi yang riskan.

 

Prediksi Rupiah 18-29 Januari 2016

Sesuai prediksi sebelumnya, kurs Rupiah bergerak dalam range antara 13,580-14,133 per Dolar AS sejak 21 Desember 2015 hingga pertengahan Januari ini. Namun, hingga hari ini (19/1), level terlemah Rupiah terbentur pada fibo 23.6% (kisaran 13,800-14,000) tanpa sejengkal pun menyentuh 'level bahaya' 14,100. Nampaknya masih lebih banyak investor mengambil sikap 'wait and see' di awal tahun ini.

USDIDR

Chart USD/IDR pada timeframe Daily dengan indikator EMA-20 (merah), EMA-60 (tosca), EMA-100 (coklat), fibonacci retracement, dan MACD (klik gambar untuk memperbesar)

 

Dengan melihat sulitnya level fibo 23.6% untuk ditembus, maka pergerakan Rupiah dalam dua pekan ke depan nampaknya akan berada dalam kisaran sempit antara 13,691-14,133 per Dolar AS, setidaknya hingga muncul pemicu tertentu yang akan melontarkannya ke atas atau menjorokkannya ke bawah. Penembusan level 13,691 ke arah bawah memungkinkan penguatan hingga 13,457; tetapi risiko pelemahan ke 14,133 juga masih ada, mengingat masih tingginya ketidakpastian di pasar global dan adanya beberapa indikator penting AS yang dijadwalkan akan rilis dalam dua pekan mendatang.

 Baca Artikel Terkait : 

Cara Berinvestasi Forex 

Get Adobe Flash player

Mitra Broker Sang Pialang

 

 

 

Forexmart

 

 

 

Live Currency


The Forex Quotes are powered by Investing.com.

Sosial Media

 

 

Pengunjung

Flag Counter
DMCA.com Protection Status ||

f t g