Data Nonfarm Payroll AS dirilis lebih rendah dari ekspektasi pekan lalu, tetapi greenback mengungguli beberapa mata uang mayor sehubungan dengan tingkat pengangguran dan pertumbuhan upah yang jauh lebih baik dari dugaan. Meski demikian, Dolar AS terus merosot terhadap Yen, dan bahkan kini mata uang negeri Matahari Terbit itu menggapai level yang pernah dihuninya pada November 2014 lalu. Padahal, baru akhir Januari lalu Bank sentral Jepang mengadopsi kebijakan suku bunga negatif.

BoJ

 

Suku Bunga Negatif versus Kepanikan Pasar

Bank of Japan (BoJ) memangkas suku bunga hingga minus 0.1 persen pada 29 Januari guna mendorong pencapaian target inflasi dan menggairahkan kembali perekonomian. Pada saat itu, Yen sempat ambruk karena pasar tak menduga sama sekali kalau mereka akan mengambil langkah tersebut. Namun, tak berapa hari kemudian, kini Yen nampak pulih kembali. Ada beberapa faktor yang menunjang fenomena tersebut, dan salah satunya yang terutama adalah aksi jual di pasar saham dan obligasi yang berlangsung hingga Imlek kemarin dan memicu meroketnya minat akan aset safe haven.

Sebagaimana diberitakan oleh Bloomberg, indeks-indeks saham Jepang dan Australia, berikut indeks berjangka AS terjun kemarin, meski pasar di China dan Korea Selatan sedang liburan. Seiring dengan itu, yield obligasi pemerintah New Zealand merosot ke level rendah baru, sedangkan yield obligasi 10-tahunan Jepang turun hingga 4 basis poin ke 0 persen, sebuah level rendah yang belum pernah terekam sebelumnya diantara obligasi negara-negara G7. Penurunan yield obligasi ini sebagian besar dikarenakan minus-nya suku bunga acuan Jepang, tetapi justru mendorong penguatan Yen karena banyaknya investor yang melikuidasi posisinya.

Yield Obligasi Jepang

Toshihiko Matsuno dari SMBC Friend Securities Co di Tokyo mengatakan pada Bloomberg, "Yen naik sementara yield obligasi AS anjlok dan harga emas meningkat. Pada dasarnya ini menunjukkan sentimen pasar yang menghindari risiko (risk-averse market sentiment). Dengan meningkatnya kerisauan akan perlambatan inflasi di Amerika Serikat juga, sentimen pasar terguncang."

 

Dukungan Tak Terduga

Dalam sebuah editorial di akhir Januari, kami telah mengungkapkan bagaimana kondisi di pasar minyak saat ini merupakan salah satu risiko yang paling mengancam Dolar dan sebaliknya, justru menyediakan dukungan ekstra bagi Yen.

Secara umum, murahnya harga minyak akan mempersulit pencapaian target inflasi yang telah dipatok oleh semua bank sentral di semua negara maju, termasuk Amerika Serikat, Zona Euro, Inggris, dan Jepang. Akan tetapi, di pasar minyak, Zona Euro dan Jepang merupakan konsumen; sementara bagi AS dan Inggris, sektor perminyakan merupakan salah satu sumber pendapatan. Semakin berlarut-larutnya masa sulit di pasar komoditas pun membuat makin banyak perusahaan melakukan 'efisiensi', alias menahan ekspansi dan memecat karyawan. Belum lagi, harga minyak kini dianggap sebagai bom waktu di pasar finansial dunia. Dengan latar demikian, logis bila harga minyak murah dianggap memberikan dukungan bagi Yen oleh sebagian kalangan, meskipun signifikansinya relatif rendah.

 

Jadi, Reli Atau Rebound?

Analis dan trader Kathy Lien menyiratkan dalam catatannya kemarin (8/2) bahwa intervensi verbal diperkirakan akan dikeluarkan oleh BoJ apabila Yen terus menguat, karena level 115 telah lama dipandang sebagai "garis pembatas" bagi BoJ. Bukan hanya karena level tersebut telah lama terlewati, tetapi juga karena bank sentral tersebut tidak akan senang melihat Yen menguat lebih dari 300 pip setelah suku bunga dipotong hingga negatif. Intinya, risiko utama bagi USD/JPY adalah intervensi BoJ, yang mungkin sekali terjadi di tengah perlambatan pertumbuhan dan volatilitas pasar global.

Namun demikian, Lien menilai bahwa apakah Dolar akan terus melemah terhadap Yen atau tidak, itu bergantung pada testimoni Janet Yellen pekan ini. Jika ketua Federal Rerserve tersebut sama dovish-nya dengan William Dudley, maka Dolar bisa berlanjut menurun; tetapi bila ia menunjukkan optimisme pada ekonomi AS, maka Dolar bisa berbalik pulih seketika.

Akan tetapi di hari yang sama, analis dari BofA Merrill, salah satu bank investasi top Amerika, menyebutkan bahwa mereka cenderung "suka (bertrading) JPY dibanding EUR dan CHF". Sebagaimana dikutip oleh eFXnews, BofA Merrill menilai suku bunga negatif kemungkinan tidak akan mengarah pada tekanan pelemahan berkepanjangan pada JPY karena suku bunga riil tidak mungkin turun, sementara penghindaran risiko akan membuat dana-dana Jepang tetap tersimpan di Jepang. Barclays juga memperkirakan aksi jual berlanjut pada pair USD/JPY, dengan mengantisipasi "break dibawah area 115.55 untuk mengesahkan pandangan bearish dan mengkonfirmasi multi-month topping pattern". Selanjutnya, Barclays menargetkan pair ini untuk mengarah ke area 110 dan 106. Saat editorial ini ditulis, USD/JPY sudah menapaki kisaran 114.

Get Adobe Flash player

Mitra Broker Sang Pialang

 

 

 

Forexmart

 

 

 

Live Currency


The Forex Quotes are powered by Investing.com.

Sosial Media

 

 

Pengunjung

Flag Counter
DMCA.com Protection Status ||

f t g